Pelangi Sore

Mei 29, 2007

Kesaksian

Diarsipkan di bawah: Pinggiran — Iqbal @l_Imam @ 11:29 am

  

Rasus memungut sebuah batu cadas seukuran kepala. Lalu batu itu ia letakkan di atas sebuah tongkat kayu (yang ditancapkan ke tanah). Dengan pisau belati, batu cadas itu ia ukir. Ada gambar mata, hidung dan bibir. Dan Rasus tak lupa menggoreskan sebuah kumis panjang yang melintang. Kemudian, sehelai daun jati ia kenakan di atasnya. Sekarang, batu itu menyerupai kepala manusia dengan sebuah topi. Tongkat kayu adalah badannya.

Sejenak Rasus menatap hasil rekaannya. Sudah tepat. Itulah replika dari mantri yang menculik Emaknya sewaktu ia masih kanak-kanak dulu. Menurut Neneknya, mantri itu memiliki kumis dan selalu memakai topi gabus.

Barangkali Anda tidak asing dengan potongan kisah di atas. Ya. Rasus adalah tokoh utama dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel itu sendiri telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Cina, dan Jepang. Sementara penggalan kisah yang saya hadirkan di sini adalah bagian yang —menurut saya— berkisah tentang bangunan sebuah kesaksian.

Sejak usia kanak-kanak, Rasus hanya menyaksikan mantri yang dibencinya itu dalam angan-angan. Mereka tak pernah bertemu. Dan Rasus hanya mengandalkan gambaran yang disuguhkan oleh Neneknya mengenai mantri itu. Neneknya bilang, mantri itu berkumis dan bertopi gabus. Itu saja.

Kita yang dimanjakan oleh perkembangan media audio-visual hari ini, mungkin lebih “beruntung” ketimbang Rasus. Kecanggihan multimedia telah memungkinkan kita untuk menyaksikan pelbagai peristiwa yang dulunya luput. Saya yakin bahwa Anda —demikian juga saya— tak pernah menyaksikan langsung pembantaian para Jenderal pada malam 01 Oktober 1965 itu —misalnya. Tapi melalui film yang pada masa Orde Baru diputar setiap tahun dan melalui diorama yang menampilkan peristiwa itu di museum Lubang Buaya, kita digiring untuk menyaksikannya; seolah ia nyata di depan mata kita.

Tapi apa artinya “beruntung” ? Sungguh, saya meragukan makna kata itu di zaman ini. Saya sangsi terhadap keberuntungan yang diperoleh dari upaya menghadirkan kembali realitas dari masa lalu semacam itu. Sebab selalu ada kecenderungan untuk serta-merta menerima suatu cerminan realitas sebagai realitas itu sendiri, hanya karena ia terhadirkan dalam fakta visual yang tampak nyata dan logis. Selebihnya, kita lupa bahwa fakta visual semacam itu bukanlah representasi sempurna dari obyeknya. Bagi saya, kebenarannya hanya tentatif, sebab ada manipulasi yang sepenuhnya bersifat politis. Kita —yang dimanjakan oleh kecanggihan multimedia hari ini— saya katakan beruntung justru karena merasa puas dengan kebenaran yang manipulatif itu.

Rasus —sebagaimana dikisahkan Ahmad Tohari— juga memanipulasi mantri yang dibencinya itu. Oleh sebab itulah ia membangun sebuah replika. Tapi manipulasi yang direka Rasus adalah unik.

Rasus sadar betul bahwa ia tak akan pernah berjumpa dengan sang mantri, padahal ia perlu mendapatkan gambaran yang pasti mengenai Emaknya, agar tak lagi menghantui pikirannya. Ia juga ingin mengusir gambaran tak menentu mengenai kepergian Emaknya yang dikisahkan orang-orang Dukuh Paruk padanya. Maka Rasus memanipulasi mantri itu menjadi sebuah replika dari tongkat kayu, batu cadas yang diukir, dan ditambah dengan sehelai daun jati. Ada transformasi yang diupayakannya; dari hanya sekedar gambaran imajiner menjadi wujud konkret. Dengan memanipulasi gambaran mantri itu, Rasus mau menyaksikan rupanya yang terindra.

Ada sebuah film dokumenter mengenai ritual kremasi di Bali yang juga mengisahkan tentang bagaimana serangkai kesaksian dibangun. Salah seorang dari sanak keluarga yang dikisahkan dalam film tersebut telah meninggal dunia. Tapi mereka yang ditinggal, merasa dihantui, sebab jasad orang yang telah wafat itu belum dibakar sebagaimana lazimnya. Orang tersebut mati tanpa ditemukan mayatnya.

Lalu dibuatlah sebentuk orang-orangan dari koin Cina dalam ukuran mini. Orang-orangan itu dibungkus dengan daun-daunan, diperlakukan sebagaimana halnya sesosok mayat, dan diarak dengan sesajian dan iring-iringan. Sampai akhirnya orang-orangan itu dikremasi. Setelah menyaksikan sendiri asap orang-orangan yang dibakar itu terbang ke angkasa, barulah mereka yang ditinggal merasa yakin bahwa sanak yang meninggal itu telah sampai ke alam yang semestinya.

Uniknya, Rasus dan orang-orang dalam ritual kremasi di Bali itu sama-sama memvisualkan realitas yang abstrak (yang hanya ada dalam angan-angan dan pikiran mereka) menjadi sebentuk orang-orangan; sebuah replika; sebentuk realitas yang konkret dan kasat mata. Dan ketika menghadirkannya dalam wujud nyata, mereka sama-sama memanipulasi realitas tersebut. Tapi mereka sadar betul bahwa hal itu dilakukan demi menggapai suatu maksud —seuntai keyakinan.

Dikisahkan bahwa setelah replika itu terbentuk, Rasus meraih sepucuk bedil yang tersandar di sebelahnya. Pikir Rasus, inilah saat yang tepat. Ia bisa menghancurkan replika mantri itu dengan bedil di tangannya. Lalu ia bayangkan dirinya sebagai seorang anggota regu tembak yang siap menembak mati seorang musuh. Bedil sudah terkokang, dan picunya siap ditarik. Rasus hanya perlu meredakan gemuruh dendam-kesumat di dadanya terhadap sang mantri. Dan… hanya sejurus setelah ia merasa mantap, replika mantri yang menjadi sasaran tembaknya itu hancur berkeping-keping. Topi gabusnya terbang entah ke mana.

Demikianlah Rasus yang tengah membangun sebuah kesaksian. Kini sang mantri telah mati. Kepalanya hancur. Rasus sendiri yang telah membidiknya. Ia telah membebaskan Emaknya dari genggaman mantri itu. Dan tidak mungkin bangkai dengan kepala hancur bisa membawa lari Emaknya. Maka kini, Rasus menyaksikan pudarnya bayang-bayang tak pasti mengenai Emaknya yang selama ini bermukim dalam pikirannya.

Justru di situlah letak kekuatan dari sebuah kesaksian. Meskipun manipulatif, ia mampu menghasilkan seuntai keyakinan.

Lantas apakah yang membedakan kesaksian yang dibangun Rasus dan orang-orang dalam ritual kremasi di Bali itu dengan kesaksian kita —yang dimanjakan oleh kecanggihan multimedia— hari ini ?

Sekali lagi, dalam hal kecanggihan media, mungkin kita lebih beruntung ketimbang Rasus dan orang-orang di Bali itu. Tapi justru keberuntungan itu pula yang nampaknya telah menjadikan kesaksian kita melayang-layang di ruang hampa. Berbeda dengan Rasus dan orang-orang di Bali, kita menyaksikan pelbagai realitas yang dihadirkan melalui kecanggihan multimedia tanpa posisi yang pasti. Bagi kita, kesaksian hanyalah sebuah tontonan. Kesaksian kita hanyalah kesaksian akan sesuatu; bukan kesaksian dalam sesuatu.

Tentu saja, distingsi —yang saya pinjam dari Heidegger— ini tidak sepenuhnya kontradiktif. Melalui distingsi ini, saya hanya mau mengontraskan sebentuk kesaksian agar tak mengapung di awang-awang. Agar kita —yang hari ini disuguhi pelbagai fenomena karena kecanggihan multimedia— tidak mereduksi fenomena-fenomena itu menjadi sekadar tontonan, tetapi setidaknya menyadari bahwa kesaksian itu turut membentuk kesadaran kita. Sebab ketika menyaksikan sesuatu, sesungguhnya kita tengah berada dalam posisi dan situasi tertentu. Namun sayang sekali bahwa posisi dan situasi itu seringkali dibiarkan mengambang dan tak pasti.

  

  

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.