Tentang “Mati”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Mati” juga dimuat dalam Majalah Tempo, Edisi. 48/XXXV/22—28 Januari 2007
Sepagi tadi —matahari saja masih malu-malu menampakkan dirinya—, seseorang dengan pengeras suara menyampaikan ‘berita lelayu’; “Innaalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun….”, demikian berita itu dimulai. Seterusnya bisa ditebak. Bahkan, sejak awal gemerisik pengeras suara itu terdengar pagi ini, pikiranku sudah menebak: “Pasti berita tentang kematian”! Tak ada pengumuman yang layak mengusik pagi mengiringi subuh, kecuali ‘berita lelayu’.
Berita itu tidak hanya terdengar dari masjid dekat kontrakanku saja. Selang beberapa menit setelah itu, sayup-sayup terdengar berita yang sama diumumkan dari arah timur. Kemudian, berita itu juga disampaikan dari masjid arah utara beberapa menit berikutnya. Dan akhirnya, masjid yang di arah barat juga menyuarakan berita lelayu itu juga: “…….Telah berpulang ke rahmatullah, si fulan…. dst”.
Sepagi tadi, empat penjuru mata angin mengepungku dengan berita kematian. Dan sore ini, ia mengukung sendi-sendi pikiranku; meminta perhatian.
Pastilah seseorang telah bersusah-payah membawa berita itu untuk diumumkan di masing-masing masjid. Sepagi tadi ia harus sampaikan berita itu. Jika perlu, ke setiap pintu rumah. Berita tentang kematian ‘orang lain’, meski ‘orang lain’ itu adalah karibnya. Sepagi tadi pula berita itu sampai kepadaku; berita tentang kematian orang lain, dan bukan berita tentang kematianku.
‘Berita tentang kematian’, tentu tidak sama dengan ‘kematian’ itu sendiri. Orang-orang merasa perlu untuk ikut tahu apa yang dikabarkan dalam ‘berita kematian’: siapa yang mati, kapan ia mati, bahkan —kalau perlu— bagaimana ia mati? Tetapi orang-orang sepertinya tak hendak tahu tentang ‘mati’ itu sendiri. “Setiap orang pasti mati…, hanya soal waktu”, demikian senandung sebuah lagu.
Saya tidak tahu pasti apa yang membuat suara orang yang menyampaikan berita kematian tadi dari masjid sebelah selatan terdengar lunak. Sepertinya ada duka yang tertahan, atau memang demikian “etika”-nya mengumumkan berita kematian. Tidak seperti suara orang yang sama ketika ia mengumumkan kerja bakti atau pengajian RT. Juga tidak seceria suara anak-anak yang tiga kali seminggu memanggil teman-temannya untuk mengaji dari corong masjid itu. Apalagi, tidak selantang suara azan lima kali sehari.
‘Berita tentang kematian’ justru disampaikan dengan bungkus duka.
Sebuah foto perempuan yang sedang menitikkan air mata juga terpampang di halaman muka salah satu surat kabar terkemuka beberapa waktu lalu. Suaminya ikut hilang dalam kecelakaan pesawat terbang awal tahun ini. Kabarnya, kematian suaminya akan “disantuni” puluhan juta rupiah.
‘Berita tentang kematian’ juga diiringi dengan ‘santunan’.
Gempa bumi 27 Mei 2006 silam di Jawa Tengah dan Yogyakarta juga menyisakan potret-potret kematian. Tsunami di Aceh juga serupa. Potret-potret itu bahkan dikemas sedemikian rupa, sehingga setiap orang yang menyimaknya akan gentar terhadap jiwa-jiwa yang melayang dan kematian-kematian yang mengiringi bencana itu.
‘Berita tentang kematian’ menggentarkan dan menakutkan, tetapi sekaligus menjadi komoditi yang diperjual-belikan.
Bahkan ada surat kabar dan salah satu majalah ibukota yang mengkhususkan diri dengan ‘berita-berita tentang kriminalitas’, yang tak jarang berujung pada kematian; seolah-olah bermain-main dengannya.
Semua itu menegaskan bahwa ‘berita tentang kematian’ tidak memiliki wajah yang sama seluruhnya. Setiap orang memiliki gambaran yang berbeda-beda tentang kematian. Demikian pula agama-agama, mitos-mitos purba, atau negara-negara modern. Kadang kematian digambarkan sebagai kepahlawanan, heroik, dan patriotis, dan kadang gambarnya terlalu suram untuk disimak.
Namun, itu semua hanyalah ‘berita dan gambaran tentang kematian’, yang bukan ‘kematian’ itu sendiri. Orang hanya bisa ‘memberitakan’ atau ‘menggambarkan’ kematian ‘orang lain’, tetapi tak mampu menggambarkan kematian dirinya sendiri. Maka ‘kematian’ akhirnya diwakili oleh simbol-simbol; Dewa Maut, Izrail, Yamadipa, Kiamat Kecil, dan seterusnya.
Betapa pun berbedanya gambaran orang-orang tentang kematian, tetapi kematian tetap itu juga. Sekali ia datang, ia menjadi pemisah dua alam. Tidak peduli siapa yang disapanya. Sungguhpun kisah Ashabul-Kahfi terulang kembali, tapi di sana tetap ada perpisahan, meski sebentar.
‘Gambaran tentang kematian’ dan ‘kematian’ itu sendiri. Ketidak-sanggupan orang-orang untuk menggambarkan kematiannya sendiri menyiratkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang terpisah dari diri. Tetapi mereka lari menjauh (Q.S. 50:19), gentar —seperti orang-orang yang menutup telinganya di bawah gemuruh dan kilatan halilintar (Q.S. 02:19)—, bahkan takut, sehingga kedua betisnya saling beradu (Q.S. 75:26-30). Semakin mereka menjauh, kematian semakin menari-nari mengibaskan gaunnya di pelupuk mata.
Tentang kematian, seseorang pernah menyuratkan hikmah berikut: “Manusia ‘terlempar’ di dunia ini, terbenam dalam kesehariannya, dan akhirnya mati”. Itulah conditio humana yang tak terelakkan. Anda menanggapinya sebagai ketragisan atau menganggapnya naif, hasilnya sama saja. Anda sebenarnya mengarahkan setiap detik dan langkah anda menuju kematian; bergerak maupun tidak bergerak. Sejauh anda berlari, sejauh itu pula kematian menyusul anda. Hanya ‘berita tentang kematian’ yang bisa dihilangkan; sementara ‘kematian’ itu sendiri, tidak…!!!
Lantas, apa gunanya hidup, jika ujung-ujungnya hanya mati? Apa gunanya berlari, jika kematian selalu menguntit?
Bayangkanlah sejenak orang-orang yang setiap hari menjaga kebugaran tubuhnya. Mereka melakukan hal itu karena yakin bahwa kebugaran tubuh dibutuhkan untuk mendukung aktivitas yang padat. Pekerjaan akan terbengkalai jika sakit.
Sekarang marilah kita lanjutkan argumen ini. Selain sakit, kondisi tubuh seperti apakah yang menghalangi dan membuat pekerjaan menjadi terbengkalai? Sebutlah dari renta (maka orang takut tua), cacat, loyo, tak bertenaga, dst. Semua itu menggambarkan keadaan tubuh yang kehilangan sebagian potensi gerak yang dimilikinya. Tetapi hanya sebagian. Potensi gerak itu akan sama sekali luruh jika sampai pada kematian. Jadi, jauh di balik ketakutan dan kekhawatiran akan sakit dan sebagainya tadi, alasan kematian ternyata berada di sisinya yang paling dalam. Kematian yang berupa raibnya potensi gerak pada tubuh.
Tetapi dari kesadaran akan pentingnya potensi gerak tubuh itu, orang-orang berupaya menjaga kebugaran tubuhnya. Artinya, ketakutan-ketakutan yang terbangun menjadi alasan untuk membuat kehidupannya menjadi berharga. Jika kematian-lah yang berada di balik ketakutan-ketakutan itu, maka kematian menjadi penting, justru untuk kehidupan itu sendiri. Demikian pula, merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri.