Tentang “Barbar”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. Thanks, untuk sahabat yang menunjukkannya: “Entahlah, hidup dalam semesta bahasa seakan kepala ditodong pistol dibarengi teriakan “harta atau nyawa !”. Sama-sama celaka (swv)”….
“Tubuh Saddam Hussein terayun ke bawah dan lehernya langsung tercekik tali gantungan—dan kita melihatnya di sebuah rekaman video yang melukiskan kembali saat dramatis itu, dan kita mungkin berbisik: seorang diktator mati di sebuah ruang pengap, sebuah demokrasi lahir”, demikian GM memulai.
Bisakah keutuhan guratan itu diruntut dari rute lain, sembari sekali-sekali menemuinya di persimpangan; memastikan bahwa dia masih kukuh dalam napak tilasnya?
Barangkali ada beberapa persimpangan berikut yang bisa menjadi simpang pertemuan. Pertama, eksekusi mati (hukum gantung) terhadap Saddam Hussein, mantan presiden Irak yang menggemparkan itu; seorang tokoh yang mati sebagai penjahat perang (versi Amerika), dan dicitrakan sebagai salah seorang diktator nomor wahid seantero dunia.
Kedua, isu demokrasi yang didengungkan negara-negara Barat. Bukan rahasia umum bahwa masyarakat Indonesia pun mengidolakan demokrasi. Demokrasi dipuja karena dianggap lebih mampu menampung aspirasi semua golongan masyarakat. Demokrasi dielu-elukan karena menjamin kebebasan berpendapat. Demokrasi kita sanjung karena ia “dari rakjat, oleh rakjat, dan oentoek rakjat”. Tetapi benarkah demikian adanya?
Ketiga, peradaban -yang demokratis- versus barbarianisme. Dalam scene hitam-putih, tentu orang akan segera memberikan penilaian bahwa yang baik adalah yang beradab. Barbarisme sama sekali tidak dikehendaki, dan justru harus didepak dari dini. Kita berusaha untuk menjadi “yang beradab” (kemanusiaan yang adil dan beradab, demikian ujar sila kedua Pancasila), dan sebaliknya, menjauhkan diri dari pola-pola barbarisme (barbaric over specialization, demikian yang juga disunguti A.A.). Jarak peradaban dan barbarisme menjadi sangat jauh sekali, dan kita harus menempatkan diri pada yang pertama, dan bukan yang kedua.
Tapi, bagaimanakah caranya “menjadi beradab” itu? Keempat, GM bertanya: “lantas, bagaimanakah ingatan akan berperan selanjutnya?”
Tidak seperti GM, orang-orang mesti tidak akan melihat peristiwa terkulainya kepala Saddam di tiang gantungan sebagai cost yang harus dibayar demi tegaknya demokrasi di Irak. Tetapi GM justru melihatnya demikian. Saya yakin, terhadap peristiwa senada di Indonesia, ia mesti akan berpendapat bahwa pembangunan di Indonesia ditegakkan di atas pemasungan -bukan hanya satu, tetapi- puluhan ribu kepala rakjat yang -menurut James T. Siegel- dicap sebagai “kriminal”; PKI. “Kepala Saddam harus dipenggal, jika demokrasi ingin tegak di Irak”, barangkali demikian fakta yang hendak diteriakkan GM.
Tentang ini, saya setuju. Tetapi miris rasanya dengan kesimpulan yang seolah-olah berlaku saklek dan kita amini itu; bahwa tiada suatu peristiwa -meski yang paling sederhana sekalipun- terjadi tanpa “meminta korban” di-luar-dirinya (Lajur GM berbelok di sini, mengikuti jalan sempit ke-tak-terpisahan). Tapi, bau logika Cartesian sangat kental di sini, yakni logika yang memposisikan subjek selalu terpisah dengan objek. Eksistensi subjek hanya bisa tercapai jika ia memanipulasi dan “menggagahi” objek sedemikian rupa.
Dalam kasus ini kita lihat bahwa logika semacam itulah yang diterapkan sebagai logika peradaban. Artinya, peradaban yang demokratis memposisikan dirinya sebagai subjek, yang kemudian memanipulasi, menggagahi dan menyingkirkan barbarianisme yang dianggap berada di-luar-dirinya. Untuk bisa tumbuh subur, peradaban yang demokratis terlebih dahulu harus mampu memposisikan barbarianisme sebagai objek yang harus ditundukkan dan -kalau perlu- disingkirkan.
Penggalan kepala Saddam yang terkulai merupakan simbol dari telah ditundukkan dan disingkirkannya “barbarianisme”, yang akan secara spontan disambut seringai kemenangan oleh “subjek” peradaban yang demokratis.
Akan tetapi, benarkah kepala Saddam betul-betul telah terkulai? Benarkah barbarianisme di Irak telah ikut terhapus dengan dibubuhinya cap merah tali gantungan di leher Saddam? Benarkah barbarianisme telah lenyap sepenuhnya, setidaknya dari Irak?
Mari kita sama-sama memekik: “Belum, dan sama sekali tidak akan lenyap”.
Justru demokrasi harus waspada terhadap dirinya sendiri karena demokrasi (atau subjek yang demokratis) suatu saat pasti akan bercerita tentang dirinya, sebagai subjek yang telah menang, dan telah sukses menundukkan barbarianisme.
Taruhlah cerita itu diujarkan tepat sedetik setelah kepala Saddam terkulai. Maka artinya, pada detik itu juga demokrasi (atau subjek yang demokratis) telah memposisikan dirinya sebagai subjek yang bercerita tentang dirinya sendiri. Dan sebagai ‘objek yang diceritakan’ semacam ini, maka berarti hanya menunggu waktu bagi demokrasi (atau subjek yang demokratis) untuk memanipulasi, menggagahi, dan menyingkirkan dirinya sendiri.
Jadi, barbarianisme yang dianggap telah berhasil disingkirkan itu sebenarnya tidak benar-benar tersingkir. “Ruh”-nya merasuki demokrasi (atau subjek yang demokratis).
Demokrasi sesungguhnya merupakan barbarianisme yang telah dipercantik.
Logika Cartesian yang memisahkan kutub subjek dan objek ini secara ekstrem, memang seringkali membuat hati miris. Namun, demikianlah prinsip demokrasi, ungkap GM, “yang selalu harus mencari cara bagaimana sebuah tubuh komunitas bisa bertahan tanpa sebuah kepala yang pada suatu hari akan copot”.
Selama komunitas yang bersangkutan memiliki kepala, berarti potensi untuk menjadi subjek yang otonom dan merdeka, tetap dimilikinya. Inilah yang dikhawatirkan demokrasi, karena -sebagaimana diyakini bahwa- demokrasi adalah satu-satunya yang boleh eksis sebagai subjek peradaban. Untuk itulah, kepala subjek-subjek yang lain harus dipenggal.
Jika mengikuti rute GM, secara eksplisit dia katakan bahwa segala sesuatu selain demokrasi boleh eksis, tetapi harus tanpa kepala. Ini sama artinya dengan tidak eksis; atau eksis, tetapi hanya sebagai objek yang telah ditundukkan dan digagahi.
Maka sesungguhnya jarak antara demokrasi dan barbarianisme tidaklah sejauh yang disangka orang, demikian yang diungkap GM selanjutnya. Dengan kata lain, jarak antara subjek dan objek tidaklah seekstrem yang dikira dan diposisikan orang-orang.
Mereka menganggap keduanya terpisah dalam jarak yang jauh, dikarenakan mereka ‘lupa’ bahwa ada saatnya demokrasi memposisikan dirinya sendiri sebagai “objek yang diceritakan” oleh dirinya sendiri. Orang-orang ‘lupa’ bahwa “tak ada dokumen peradaban yang bukan merupakan sebuah dokumen barbarianisme sekaligus”. Ini karena kepala Saddam yang terpenggal telah membuat demokrasi bercerita tentang kemenangan yang -disangka- diraihnya.
Namun waspadalah terhadap moment itu, karena ia menandai kesiapan demokrasi untuk memenggal kepalanya sendiri, entah karena “ruh” barbarianisme -yang dikira sudah lenyap- telah merasuki dirinya, atau karena dia harus mengeluarkan (meng-objek-kan) sisi dirinya yang dinilai sama barbariannya dengan barbarianisme yang sebelumnya –dikira- telah disingkirkan, untuk kemudian dipenggalnya sendiri.
‘Kelupaan’ semacam ini merupakan sebuah ‘kelupaan’ yang secara fundamental terkandung dalam setiap manifestasi logika Cartesian.
Disebabkan ‘kelupaan’ inilah modernitas mengidap cacat internal yang tidak tersembuhkan.
Karena ‘kelupaan’ ini pula manusia modern secara membabi-buta menggunduli bukit-bukit hutan yang telah lestari selama berabad-abad sebelumnya.
Dikarenakan ‘kelupaan’ yang sama, kolonolialisme dan imperialisme tetap subur dan bahkan semakin menjamur, meski dalam rupa yang telah dipercantik.
Dan disebabkan ‘kelupaan’ ini pula seseorang harus melangkah dengan kalungan parang di lehernya, yang setiap saat siap menjadikan dirinya tanpa kepala, mengikuti nasib Saddam.
Namun, mengalihkan kelupaan dan menggantinya menjadi ingatan, tidak sama dengan dan bukanlah sekadar tindakan “mengingat-ingat”.
Ingatan hanya akan berperan jika ia eling terhadap puing-puing barbarianisme yang hanyut mengiringi arus yang juga dilewati demokrasi. Artinya, demokrasi dan barbarianisme mengalir dalam arus yang sama; kadang di belakang, kadang di depan, atau kadang di sampingnya (anda tentukan sendiri).
Tugas mereka yang punya ingatan adalah menyusuri arus yang sama dan memunguti satu-persatu puing-puing barbarianisme yang disangka telah disingkirkan tadi, untuk kemudian mengungkap kepada demokrasi (yang kita agung-agungkan dan elu-elukan itu) bahwa barbarianisme masih tetap mengalir, mengikutinya dalam arus yang sama.
“Ah, arus besar peradaban memang selalu menjadi kubangan tempat segala sesuatu timbul dan tenggelam; entah menimbulkan diri, atau ditenggelamkan. Sebuah pojokan kelabu bumi manusia”.
aku belum sempat kasih komentar, nanti kalau ada waktu.
saat ini aku hanya ucapkan selamat, itu saja.
Komentar oleh swanvri — Januari 17, 2007 @ 2:27 am