Pelangi Sore

Januari 23, 2007

Adonis

Diarsipkan di bawah: Pinggiran — Iqbal @l_Imam @ 1:18 pm

    

Tentang “Adonis”, oleh Goenawan Mohamad, dalam Catatan Pinggir. “Adonis” juga dimuat dalam Majalah Tempo, Edisi. 47/XXXV/15—21 Januari 2007.

Imam besar Abu Hamid al-Ghazali, yang digelari Hujjah al-Islam, mengawali kesufiannya dari titik ‘keragu-raguan’. Ia sendiri mengatakan bahwa ‘keragu-raguan’ mulai menimpa dirinya setelah ia menyaksikan berbagai aliran pemikiran dan kelompok keagamaan —yang ada pada zamannya—, saling berbantahan tentang kebenaran; suatu perbantahan yang akhirnya berkembang menjadi klaim bahwa masing-masing telah mencapai Realitas. Bagi al-Ghazali, bagaimana mungkin pertentangan yang demikian bisa diterima? “Jika tidak semuanya keliru, maka hanya satu saja yang benar”, demikian al-Ghazali.

Bagi sufi besar itu, pertentangan berbagai aliran dan kelompok tersebut ibarat lautan yang dalam, ganas, dan menenggelamkan. Tidak banyak yang mampu menyelamatkan diri dari amukannya. Lantas, bagaimana mungkin setiap orang menyatakan dirinya selamat, padahal pulau seberang pun belum lagi tampak?

Lalu al-Ghazali mengasingkan diri; sesaat setelah lidahnya kelu dan terkunci. Ia memanggul dirinya sendiri menuju negeri tanpa batas. Konon ada yang bilang, al-Ghazali menyusuri jalan para Nabi.

Berhasilkah ia?

Saya lebih suka mengatakan bahwa ia, al-Ghazali, tidak pergi ke mana-mana. Sejenak akan kita ikuti ilustrasinya tentang ‘lautan yang dalam, ganas, dan menenggelamkan’ di atas. Lautan ini adalah samudera maha luas tempat manusia hidup. Perbatasannya dengan daratan adalah kematian; sedangkan dengan udara adalah nafas segar kehidupan. Al-Ghazali menyadari bahwa ia berada di tengah samudera yang demikian. Tetapi ia justru memilih untuk menyelam ke dasarnya yang paling dalam, mencandra palung-palungnya, menyapa para penghuninya, dan merasakan tenang suasananya; kedalaman samudera yang menyimpan sejuta rahasia. Al-Ghazali menghamparkan dadanya; menantang daya karam yang dimiliki samudera.

Tetapi ia tidak di sana selamanya. Ia juga naik ke atas, menapaki kepadatan air yang berlapis-lapis; menuju perbatasan air dan udara lepas. Ia mencuri kesempatan di saat samudera mulai tenang. Di sela-sela nafas penghuni kedalaman samudera yang menyisakan gelembung-gelembung. Tetapi di perbatasan, al-Ghazali tidak mengapungkan diri sepenuhnya. Ia hanya memunculkan sebatas tenggorokan; menyeka air di wajahnya —menjernihkan pandangan; dan memenuhi paru-parunya dengan menghirup udara dalam-dalam. Di kedalaman samudera seperti itu, udara bercampur dengan rasa asin.

Orang-orang mengatakan: “Al-Ghazali mengasingkan diri; menyendiri di menara-menara tinggi di Damaskus, al-Quds, Makkah, dan Madinah”.

“Mengasingkan diri” adalah jedah, tetapi tetap dilakukan di tengah gelombang samudera keseharian. Muhammad Sang Nabi juga mendaki ke Hira’; tak jarang pulang dengan gemetar. Ia bahkan telah sampai di lapis langit yang tertinggi; tapi jasadnya tetap menanti di bumi. Ia kembali bukan karena apa-apa. Masih ada rentetan keterlemparan yang harus dipahami. Muhammad Sang Nabi dan al-Ghazali; sosok-sosok agung itu menemukan hamparan maha luas di ‘perbatasan’.

Adonis juga menemukan sesuatu yang lain di perbatasan; “bukan sebuah tembok atau ujung, melainkan sebuah jendela dan sebuah awal dari jalan lain, pengetahuan lain, pencarian lain, dan ikatan lain”….

Sepertinya perbatasan penuh sesak dengan simbol-simbol. Di sana, orang bisa memenuhi paru-parunya dengan udara dendam atau melapisi wajahnya dengan topeng keabadian. Banyak juga yang tak mau kembali. Katanya: “Meneladani Nabi dan al-Ghazali”. Bagi yang terakhir ini, mengawang di permukaan lebih mulia ketimbang mati busuk di kedalaman samudera; hanya berkubang rasa asin belaka.

Tetapi, lebih banyak yang kembali, namun tentu saja dengan tekanan udara yang berbeda di masing-masing paru-parunya. Adonis kembali, sementara dadanya sesak dengan “sebuah rumah yang tanahnya ia bawa sepanjang kembara”. Ia hendak menundukkan kepalanya di sana. Al-Ghazali juga kembali; memenuhi panggilan fitrah yang dipilihkan untuknya. Tetapi, Malin Kundang juga kembali; mengukir patung dirinya sendiri dalam keabadian. Seseorang juga berkisah tentang Sanikem yang harus kembali dengan topeng Nyai di wajahnya, meski leluasa memberinya nama ‘Ontosoroh’, tapi dipilihkan untuknya. Bandung Bondowoso juga kembali; memahat sebuah patung untuk dikenang.

Setiap orang pernah sampai di perbatasan; ditundung maupun menundung diri sendiri. Setiap orang pernah menjadi eksil. Tapi tampaknya tidak setiap orang merengkuh simbol-simbol di hamparannya, sebab tidak setiap orang mendapatinya sebagai jendela.

Mencapai garis perbatasan bukanlah sebuah kemenangan, tetapi sekaligus juga bukan kekalahan. Tiada yang kembali darinya tanpa segores luka. Di sana para sufi memahatkan nyanyian rindu, seolah mengadu tentang kedalaman samudera yang terlampau tenang. Mengharap Sang Semesta sudi menutupi goresan luka yang tersisa. Mereka tak hendak kembali, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya pergi.

Di sana pula al-Ghazali menyembunyikan pengalaman-pengalaman kesufiannya sendiri. Dikubur rapat-rapat di balik kilauan cahaya akal budi. Seolah tak kuasa berterus-terang tentang keretakan, yang sinarannya tak bisa dipanggul ke kedalaman; menembus kepekatan samudera keseharian. Al-Ghazali mengatakan: “Pada waktu pikiran-pikiran yang demikian itu terenungkan olehku dan menghujam dalam jiwa, aku pun berupaya menyembuhkannya, tapi ternyata tidaklah gampang. Sebab hal ini memang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dalil. Padahal dalil ini tidak mungkin diadakan kecuali jika tersusun dari pengetahuan-pengetahuan primer”.

Sayang sekali…, samudera keseharian manusia sepertinya tak sudi menyisakan celah, tanpa mengalirkan air padanya; demi membuatnya tampak penuh dan utuh. Atau barangkali manusia memang tak sabar menyongsong kepenuhan yang ada di seberang, dan kemudian menciptakan replikanya di sini dan saat ini; di palung-palung samudera keseharian dan di pojokan-pojokan bumi manusia…??!!

   

    

Blog pada WordPress.com.