Pelangi Sore

Februari 23, 2007

Hujan

Diarsipkan di bawah: Pinggiran — Iqbal @l_Imam @ 12:01 pm

   

GM, “Hujan”; (Majalah Tempo, Edisi. 50/XXXV/05 – 11 Februari 2007).

Pagi itu, dewa Zeus melihat putri dari Agenor —raja Tyre— yang bernama Eropa, sedang memetik bunga. Seketika ia tergoda pada keelokan Eropa. Dadanya sesak penuh cinta. Ia turun ke bumi dan berupaya memikat Eropa dengan segala daya. Zeus menjelma menjadi banteng liar, namun jinak di hadapan Eropa. Ia membujuk Eropa agar naik ke punggungnya. Eropa terpesona dan termakan bujukannya. Zeus —dengan segera— melarikan Eropa ke pulau Crete (Kriti). Ada samudera yang harus dilintasi; ada jarak yang harus dibentangkan, agar cintanya tidak menepuk ruang hampa.

Mitos ini pernah diurai-ulang oleh Lévi-Strauss, antropolog Prancis yang suatu kali hendak dinobatkan sebagai “pengganti” filosof eksistensialis terkemuka, Jean-Paul Sartre. Baginya, mitos dewa Zeus dan Eropa bukanlah dongeng biasa. Ia menyimpan logika para penuturnya; dan juga makna.

Di mata Lévi-Strauss, Eropa tidak boleh terpikat pada Zeus, dan Zeus pun tidak seharusnya terpikat pada gadis bumi. Ada jarak yang membuat keterpikatan itu menjadi terlarang.

Tetapi ini adalah soal penafsiran, sebab di pihak lain, mitos ini juga menunjukkan perkenan Dewa pada manusia. Atas perkenan itu, keturunan Zeus dari Eropa; Minos, Rhadamanthus, dan Sarpedon, masing-masing menjadi raja; sementara Zeus tetap agung di kedudukannya. Betapa pula mitologi Jawa bercerita tentang harapan-harapan manusia akan perkenan yang serupa dari para dewa di langit sana.

Zeus, sang penguasa para dewa itu, memang misteri. Orang-orang termangu mengetahui “affair”-nya dengan perempuan-perempuan bumi, tetapi kemurahan hatinya dengan cara yang tak biasa itu juga mencenungkan.

Bagi saya, Zeus sama misteriusnya dengan misteri hujan yang akhir-akhir ini menyentak beberapa kota. Zeus turun ke bumi menemui Eropa untuk memautkan cintanya, sebagaimana hujan yang turun menghantarkan dirinya ke haribaan bumi. Persoalannya kemudian terletak pada para makhluk selain Eropa dan alam semesta. Saya katakan demikian, sebab mitos itu mengisahkan teks lain:

Cadmus, saudara laki-laki Eropa, diperintahkan Agenor —sang ayah— untuk mencarinya. Cadmus harus menemukan Eropa, atau ia tidak boleh kembali. Dalam pencarian itu, Cadmus mempertaruhkan posisinya sebagai pangeran di Tyre.

Cadmus adalah saksi di hadapan raibnya Eropa, sebagaimana anak-anak manusia yang juga bersaksi di bawah terpaan hujan. Zeus —dan hujan— turun dari langit tanpa ada yang mampu menolaknya. Bahkan Agenor dan Cadmus-pun tidak. Di hadapan turunnya Zeus —dan hujan—, anak-anak manusia hanyalah para saksi yang harus menentukan sikap.

Tetapi sikap itu sendiri dibangun di atas suatu agunan yang dipertaruhkan. Cadmus akan kehilangan posisinya jika tidak mampu menemukan Eropa. Anak-anak manusia juga mempertaruhkan ‘sesuatu’ di hadapan hujan yang menderas. Harapan, tetapi sekaligus kekhawatiran, membungkus kesaksian mereka. Di sini teks itu berlanjut:

Cadmus sampai pada ujung upayanya dalam menemukan Eropa. Ia gagal, dan ia pun enggan kembali ke Tyre. Karena kegagalan itu, Cadmus kehilangan posisinya. Sadar akan gambaran nasibnya, di Delphi, Cadmus memohon bimbingan para dewa. Oleh para dewa, Cadmus tidak diperintahkan menemukan Eropa, akan tetapi disuruh membangun sebuah kota. Ia harus mengikuti seekor lembu yang akan berhenti di suatu tempat tertentu. Di tempat itulah nantinya Cadmus akan membangun Thebes; kota bagi kerajaannya.

Agaknya Cadmus menyadari aral yang merintangi upayanya menemukan Eropa. Agaknya pula ia menyadari bahwa tidak mudah bagi manusia untuk mengetahui rahasia para dewa. Zeus telah membawa Eropa ke suatu tempat yang tak bisa dicapai. Tinggallah Cadmus yang jadi saksi bagi raibnya Eropa, dan kehilangan kedudukannya di Tyre.

Dan siapa pula manusia yang sanggup merintangi pertemuan hujan dengan bumi? Kahlil Gibran pernah bersyair tentang nyanyian gelombang yang menghantarkan dirinya pada pantai; kekasihnya. Gelombang laut melumatkan diri di hamparan dada pantai; dan pertemuan keduanya membentuk buih-buih cinta. Di hadapan pertemuan itu, batu-batu karang yang kokoh itu-pun hanya jadi saksi.

Cadmus sampai di sebuah kolam suci yang dijaga seekor naga —yang keramat bagi Ares; dewa perang. Cadmus bertempur dan berhasil membunuh naga itu. Atas petunjuk dewi Athena, Cadmus menebar gigi-gigi naga tersebut, yang kemudian berubah menjadi orang-orang Spartoi. Orang-orang Spartoi ini saling bunuh. Mereka yang masih hidup kemudian membantu Cadmus mendirikan kota Thebes. Tapi, sebelum menjadi raja di Thebes, Cadmus harus menebus dosanya karena telah membunuh naga suci. Cadmus menjalani masa penebusan dosanya, hingga akhirnya Ares, dewa perang, mau berdamai dengannya. Cadmus menjadi raja di Thebes, dan mengawini Harmonia, putri Ares.

Cadmus mencapai ‘dunung’-nya, tapi tidak tanpa aral. Ada khilaf yang harus disadari; ada kearifan akan kuasa yang lebih besar yang mesti didakui, dan ada kedhaifan yang membutuhkan inayat. Cadmus tidak sendirian membangun Thebes.

Tapi itu Cadmus yang raja di Thebes. Dia bukan para raja di Jakarta yang justru membuat saya mengerutkan kening. Di hadapan hujan yang tak terbendung, mereka (di Jakarta) malah semakin gigih memupuk kebakhilan dan ketamakan dengan memperbesar “tempat”-nya. Agaknya “Cadmus-Cadmus” yang sekarang di Jakarta itu tetap ‘ngotot’ menemukan Eropa, karena tak mau kehilangan kedudukannya di “Tyre”.

Sebagai saksi, mereka khianat; bahkan lebih buruk lagi, mereka para penggecut yang tak hendak menampilkan diri sebagai manusia. Tidak seperti Cadmus yang —menurut tafsiran Lévi-Strauss— mempertaruhkan segalanya dan menghadapi naga keramat demi mengukuhkan keberadaannya sebagai manusia.

Di hadapan hujan yang tak tertolak itu, terhampar kemungkinan dan pilihan. Hujan tak harus disumpahi, sebab ada harapan yang mengiringinya, jika didahului oleh kesadaran akan kedhaifan dan kekhilafan.

Hujan justru menyentakkan suatu detik untuk berhenti, seperti ‘saat’ di mana Cadmus berhenti; bermohon di sebuah kuil suci di Delphi.

 

 

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.