Pelangi Sore

April 20, 2007

Cours

Diarsipkan di bawah: Pinggiran — Iqbal @l_Imam @ 1:10 pm

  

Ferdinand de Saussure memusnahkan seluruh naskah kuliah linguistik umum yang pernah diajarkannya sepanjang tahun 1907 dan 1911. Tak sebaris-pun guratan kejeniusannya dibiarkan tersisa. Bapak Linguistik Modern itu wafat membawa-serta gadingnya.

Tapi para mahasiswanya hanya membutuhkan waktu tiga tahun untuk membangkitkan kembali tanda-tanda kedigdayaan Sang Guru. Catatan-catatan kuliah dikumpulkan, ingatan dikuras, dan memori dijernihkan; agar kado kenang-kenangan yang mereka hasilkan, benar-benar mengkristalkan betapa kejeniusan Sang Guru layak diperhitungkan.

Cours de Linguistique Générale tersusun. Sebuah penanda berhasil dibangkitkan. Saussure tersohor di berbagai penjuru dunia, dikenal oleh berbagai bangsa, diperbincangkan dalam beragam bahasa, lebih dari banyaknya bahasa yang dikuasainya. Ia dirujuk sejauh sesuatu memiliki struktur.

Namun, karya monumental yang dinisbatkan kepada sang jenius —yang di usia 21 tahun telah berhasil menunjukkan adanya lima buah vokal dalam bahasa-bahasa Proto-Indo-Eropa— itu, tak kurang mengandung anomali.

Oktober 2002, Roy Harris, guru besar emiritus di Universitas Oxford mewartakan karyanya: Saussure and His Interpreters. Harris —yang telah lama berkubang dengan teori bahasa Saussure— bertindak sebagai algojo yang —dengan seringai bengis— mengancingkan tali gantungan ke leher siapa saja yang dinilainya telah menyelewengkan dan mengkhianati kejeniusan Saussure selama satu abad terakhir. Tak hanya para mahasiswa yang “telah berjasa” menghasilkan kado kenang-kenangan itu saja yang dibidiknya, tapi nama-nama besar, seperti Noam Chomsky, Roman Jakobson, Claude Lévi-Strauss, Roland Barthes, dan Jacques Derrida, ikut diburu.

Apakah ini anomali dari sebuah penandaan; ataukah perebutan autentisitas ?

Saya tak mampu pastikan. Tapi yang membuat saya bertanya, bagaimana sebuah monumen karya Saussure yang telah mempengaruhi perkembangan Linguistik dan Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora itu bisa ada, sementara —dengan sistematis dan terstruktur— reformulasi dan otoritas tafsir telah menundukkan dan mengkultuskannya di menara gading yang tak terjamah, semenara kejeniusannya diperebutkan sebagai legitimasi ?

Saya bergidik membayangkan karya-karya lain yang senasib dengan Cours; baik yang ditulis sendiri oleh tangan manusia, atau yang “disampaikan” Tuhan melalui manusia. Saya sungguh tak menghendaki bila Cours harus mengalami pentaqdisan sedemikian rupa oleh mereka yang tengah berebut itu.

Cours bukan kitab suci; dan Harris telah cukup bijak menunjukkan bagaimana rancu dan campur-aduknya “gagasan Saussure” dengan ide-ide yang “disandarkan pada Saussure”; sebagaimana rancunya “ide-ide dalam Kitab Suci” dengan “ide-ide yang disandarkan pada Kitab Suci”. Namun ia tak cukup kuat untuk melanggengkan kebijaksanaannya. Ia justru memvonis bahwa yang kedua tidak akan sampai mengatasi yang pertama. Ia mau mencuri gading Saussure untuk dirinya sendiri.

Bulu tengkuk saya tambah meremang di titik ini. Terlintas bila kado dari Bally, Sechehaye dan Riedlinger itu harus dibakar dan dimusnahkan, karena milik Émile Constantin-lah yang dianggap paling benar; atau sebaliknya. Terlintas pula jika Lévi-Strauss harus menghapus konsep mytheme-nya, hanya karena dianggap tidak terlalu tunduk pada ketentuan sign Saussure. Tak terbayangkan jika Jakobson harus melumat lagi fonem-nya.

Cukuplah mushaf-mushaf yang menjadi korban di masa jahiliah dahulu . . . . .

Siapakah yang berhak menentukan kuasa atas “gagasan Saussure” ? Saussure sendiri telah menunjukkan bagaimana “semena-mena”-nya ia tatkala dibangkitkan menjadi sebuah penanda. Ia teguh pada pendiriannya: Tak ada signifikasi yang tetap dan pasti. Dan ia diamini tidak hanya di linguistik, tetapi juga psikoanalisis, kritik sastra, dan bahkan antropologi.

Tapi ada yang mencoba menundukkan kesemena-menaan itu. Memanfaatkan gading yang terkubur bersama sang jenius. Ada gelagat hendak menjadi algojo, dan bertingkah sebagai orang yang bicara tentang suatu hikmah dengan berkata: “Inilah yang sesungguhnya termaktub dalam kitab suci….”. Padahal tak sebaris-pun guratan “kitab suci” itu terbukukan ketika manusia yang dipercaya mengembannya wafat.

Yang tersedia hanya catatan-catatan para mahasiswa….

  

No Comments Yet »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.