Banjir telah surut; kapal Nuh terdampar di puncak Jûdî (Ararat); di hamparan selatan Armenia yang berbatasan dengan Iran (Mesopotamia). Puncak itu tingginya 16.854 kaki. Lebih tinggi dari Jaya Wijaya di Papua, yang jadi puncak tertinggi di Indonesia. Saat itu, bukan hanya Jawa, tapi ribuan pulau yang sekarang kita sebut Indonesia, dan bahkan semesta dunia menyatu di bawah selimut air bah yang entah berwarna apa.
Dalam epic kuno Babylonia —yang ditulis dalam 12 lembaran terbuat dari tanah liat dengan tulisan kuno berbentuk baji pada 2000 SM—, kita juga mendengar kisah tentang seorang bijak bestari bernama Utnapishtim yang selamat dari banjir besar, dan dianugerahi keabadian oleh para dewa. Utnapishtim ditemui oleh Gilgamesh —raja Uruk (Erech; al-Warqâ; Irak)— yang menanyakan kepadanya tentang rahasia keabadian, setelah Gilgamesh kehilangan sahabatnya; Enkidu.
Ada lagi mitos Yunani kuno tentang banjir bandang yang dikirim oleh dewa Zeus, karena tingkah bejat manusia telah membuat sang dewa muntab sampai ke ubun-ubun. Sembilan hari siang-malam, bumi diguyur hujan —yang mungkin lebih dari 340 mm perhari. Syahdan, seluruh ras manusia binasa, kecuali Deucalion (raja Phthia di Thessaly), putra dari Prometheus dan istrinya; Pyrrha. Sebab hanya mereka berdua yang tabah di jalan para dewa; pemuja kebijaksaan dan pengikut kebaikan. Deucalion dan Phrrha terdampar di puncak Parnassus yang 8.061 kaki itu; puncak suci bagi Apollo dan Dionysus.
Banjir-banjir yang luar biasa besarnya pernah melanda dan meluluh-lantahkan bumi.
Tapi tak pernah terdengar seorang ahli atau ilmuwan yang berteori tentang siklus ‘waktu’ sekian tahunan atau sekian abad-an yang mengundang datangnya banjir-banjir maha dahsyat itu. Kita pun tak menemukannya. Epic-epic kuno dan hikayat Kitab Suci itu justru mau mewartakan “siklus” kejahatan dan kebejatan manusia yang selalu berulang; kaum Nuh yang durhaka, manusia-manusia jahat di bumi Zeus, dan orang-orang bejat di Babylonia. Inilah yang membuat Tuhan Nuh murka, menjadikan Zeus muntab, dan membuncahkan amarah para dewa di Babylonia. Banjir maha dahsyat didatangkan, meski Deucalion telah bersimpuh di kuil suci di Delphi, dan Nuh bermohon di puncak Jûdî (Ararat).
Tiba-tiba teori “siklus waktu” itu muncul di negeri ini. Kabarnya, Jakarta dilanda banjir “lima tahunan”. Data-data dikumpulkan, fakta-fakta dibeberkan. Masyarakat Jakarta diberitahu sudah berapa kali mereka terkena banjir. Kiranya banjir yang datang nyaris setiap tahun itu telah menghanyutkan catatan dan ingatan mereka, nyaris setiap tahun pula —mereka tak lagi mencatatnya. Banjir-banjir yang telah berlalu diukur seberapa besarnya. Yang kecil dipisahkan dari yang besar, sehingga teori “siklus waktu lima tahunan” itu menjadi masuk akal.
Sayangnya, saya tak tahu apa standar perumusan “teori” itu, sehingga ia terdengar ilmiah dan masuk akal. Anda sendiri boleh setuju atau tidak sependapat dengan keilmiahannya, menyangkal, meneguhkan, meng-amini, atau malah memunculkan teori baru bahwa banjir Jakarta adalah keniscayaan; takdir; kehendak alam; hukuman; atau hanya sekedar peringatan Tuhan. Anda bahkan boleh mencatatnya dalam buku sejarah Batavia.
Tapi marilah melihat kisah lain dari kontroversi teori siklus banjir Jakarta; ia seolah memaksa kita untuk menatap buku-buku tangan kita sendiri.
Banjir Jakarta memang bukan datang dari Zeus, tak sama dengan banjir di Babylonia, dan tak sebanding dengan dahsyatnya banjir di masa Nuh. Hal ini sudah jelas. Memang, Indonesia bukan negara Tuhan; bukan negara Teokrasi. Jakarta tak punya Ka‘bah ; tak memiliki Tanah Suci ; dan tak ber-Cathedra. Jakarta bukan kota Tuhan; dan bukan pula tempat bersemayam singgasana para dewa. Di kota ini, Tuhannya Nuh, para dewa Babylonia, juga Zeus, tak punya kuasa. Mereka tak “mampu” membuka pintu-pintu air, atau menyediakan tanah-tanah resapan.
Jakarta “dikuasai” oleh manusia; yang menentukan dibangunnya taman-taman atau gedung-gedung; yang menggusur dan menyulap petak-petak sawah menjadi rumah-rumah susun; yang memegang kunci pintu-pintu air; —tapi juga— yang dipercaya akan menghapuskan kemungkinan banjir tahun depan. Nampaknya, manusia-lah yang pegang kendali atas banjir Jakarta; bukan (takdir) Tuhan atau dewa-dewa, dan bukan pula siklus lima tahunan —seperti yang diteorikan itu. Manusia-manusia —di Jakarta— lah yang punya “kuasa” untuk menyulap air hujan menjadi air bah.
Suatu ketika, Muhammad Iqbal bertutur tentang filosof kuno India, Bartari-Hari, yang tengah menasehati Zinda-Rud:
Dunia yang kau lihat ini bukanlah buatan Tuhan
Kaulah penyebab jentera pemintalmu berputar
Pun benang yang tergulung padanya
Tunduklah pada Hukum imbalan perbuatan
Karena dari perbuatan terlahir Neraka, Pembersih Jiwa dan Surga
Dulu, tiap-tiap cemooh, kepongahan, dan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh tangan-tangan kaum Nuh, berbalik menjadi guratan-guratan ajaib yang mengundang semakin tingginya curah hujan. Ditambah dengan ketamakan dan pengingkaran, maka ‘bumi’-pun turut menutup pintu-pintu penyerapan airnya. Kaum Nuh-lah yang mengundang sendiri datangnya air bah yang meluluh-lantahkan mereka. Dan sekarang, tampaknya banjir Jakarta juga diundang dan didatangkan oleh kesombongan dan pengingkaran tangan-tangan yang sama.
Banjir-banjir yang luar biasa itu benar-benar berlaku. Ia jadi legenda. Deucalion harus menaburkan tulang-tulang ibunya untuk “menumbuhkan” bangsa-bangsa baru, sementara Nuh harus hidup ratusan tahun hingga lahir generasi-generasi baru. Tak heran jika riwayat beberapa suku-bangsa bermula setelah banjir Nuh mereda.
Dan, banjir Jakarta. . . . ? ? ? ?