Bima adalah ksatria yang lurus hati, setia, sederhana dan jujur, tetapi sekaligus kasar, menakutkan, dan haus darah. Menjelang perang Baratayudha, para Kurawa berusaha menyingkirkan Bima dari barisan Pandawa. Upaya penyingkiran itu dilakukan melalui Durna —bekas guru Bima yang menjelang perang menjadi pembimbing rohani para Kurawa. Durna memerintahkan kepada Bima untuk mencari air hidup yang terdapat di dalam gua Condromuka; di sebuah hutan. Sejak semula, para Pandawa yang lain telah curiga atas perintah Durna itu. Akan tetapi Bima tetap berangkat untuk mencari air tersebut, tanpa menghiraukan kecurigaan saudara-saudaranya.
Sampailah Bima di tempat yang dimaksud Durna. Di tempat itu, Bima merusak hutan dan membongkar pohon-pohonnya untuk menemukan air hidup. Tindakannya itu mengundang kemarahan dua raksasa yang tinggal di situ. Terjadilah perkelahian hebat antara mereka. Kiranya inilah yang dicurigai oleh para Pandawa, bahwa sesungguhnya Bima akan dijebak melalui perintah Durna di atas. Agaknya para Kurawa menginginkan Bima mati di tangan raksasa, sebelum perang Baratayuda terjadi.
Tetapi Bima berhasil memenangkan perkelahian dan membunuh kedua raksasa itu. Kemenangan itu pula yang membebaskan kedua raksasa dari kutukan yang semula ditimpakan Batara Guru atas mereka. Keduanya kembali ke wujud asli mereka (Dewa Indra dan Bayu). Mereka berterima kasih kepada Bima dan memberitahukan bahwa air hidup yang dicarinya tidak terdapat di hutan itu.
Bima kembali menemui Durna, yang pada kali kedua mengatakan bahwa air itu terdapat di dasar samudera. Bima mulai mencurigai Durna, bekas gurunya itu. Namun demikian, ia telah bertekad untuk mencari air tersebut, meskipun ia harus mati sebelum menemukannya. Saudara-saudaranya para Pandawa kembali mencegah kepergiannya, tetapi lagi-lagi Bima tidak menghiraukannya.
Bima memulai pencariannya yang kedua. Kali ini perjalanannya lebih panjang. Ia melewati gunung-gunung dan daratan. Dan setibanya di pinggir samudera, ia menceburkan diri ke dalam gelombang yang berlapis-lapis dan bergemuruh. Di tengah samudera, ia diserang oleh naga raksasa Nemburnawa. Lagi-lagi, perkelahian hebat terjadi; dan lagi-lagi kecurigaan para Pandawa menemukan alasannya. Tapi Bima adalah ksatria yang tidak mudah dikalahkan. Ia berhasil mengalahkan naga raksasa dan menyobek-nyobek tubuhnya dengan kuku keramat Pancanaka.
Seusai perkelahian, Bima merasakan kelelahan yang amat sangat. Ia lalu membiarkan dirinya dipermainkan gelombang dan ombak samudera. Lambat-laun, Bima dibalut oleh keadaan yang begitu sepi.
Pada saat itulah muncul sesosok tubuh di hadapan Bima. Sosok itu sangat persis dengan dirinya, hanya saja bertubuh kecil. Sosok itu adalah Dewaruci, yakni penjelmaan Yang—Maha—Kuasa.
Dewaruci mengajak Bima untuk masuk ke dalam tubuhnya yang kecil, guna menyelami batinnya. Meski diliputi keraguan, Bima melakukannya dengan patuh. Ia masuk melalui telinga kiri Dewaruci, sebagaimana diperintahkan. Berkat kesaktian yang dimilikinya, Bima tidak mengalami kesulitan untuk “memasukkan” tubuhnya yang besar ke dalam sosok Dewaruci yang kecil, dan kemudian menyelami batinnya.
Apa yang ditemukan Bima di dalam sana ?
Semula Bima menemukan dirinya dalam kekosongan tanpa batas. Seolah ia kehilangan segala orientasi. Namun lambat-laun ia melihat matahari, tanah, gunung-gunung, dan laut. Ia mendapati bahwa di dalam tubuh Dewaruci yang kecil, seluruh alam termuat secara terbalik (jagad walikan). Ia menyaksikan warna-warna nafsu (kuning, merah, dan hitam) serta ketenangan hati (putih). Ia juga menyaksikan boneka gading kecil yang melambangkan Pramana, yakni prinsip hidup Ilahi sebagai perigi kehidupan. Singkatnya, dalam penyaksian yang dialami Bima ketika menyelami batin Dewaruci, ia menyadari bahwa hakikat dirinya yang paling mendasar dan mendalam adalah manunggal dengan Ilahi. Di dalam batin Dewaruci yang kecil, yang menjelma sebagai miniatur dirinya, Bima mencapai manunggaling kawula-Gusti.
Bima kemudian pulang ke Amarta. Tapi sekarang, kesadaran dirinya sungguh berbeda dari sebelum dia berangkat. Kini, setelah kesaksiannya di dalam batin Dewaruci, pada diri Bima terkandung kesakten yang bersifat transenden yang berpadu secara serasi dengan kesaktian ragawi yang telah dimilikinya. Kelak, dengan kesakten itulah Bima akan menjadi penentu bagi kemenangan Pandawa dalam perang Baratayuda.
Demikian kisah Dewaruci, yang memuat inti kebijaksanaan Jawa. Dalam konsepsi orang Jawa digambarkan bahwa jika manusia ingin mencapai kesempurnaan, maka ia harus sampai pada sumber air hidupnya sendiri. Perigi itu tidak berada di luar dirinya, melainkan di dalam dirinya sendiri. Dalam kisah di atas, ia disimbolkan oleh sosok Dewaruci yang merupakan miniatur diri Bima sendiri. Di sanalah bersemayam hakikat diri dan realitas kehidupan yang paling mendalam. Di sana pula tempat berlangsungnya kesatuan hamba dan Tuhan; alam transenden dan imanen, esensial dan eksistensial; manunggaling kawula-Gusti, sebagai kebenaran tertinggi orang Jawa.
Saya suka sekali berlama-lama membayangkan dan menarasikan perjalanan Bima ketika mencari air hidup yang diperintahkan Durna. Perjalanan itu panjang dan sulit. Dan barangkali kita bisa menemukan metamorfosis panjangnya perjalanan itu dalam sebuah cerita yang dikisahkan oleh Leo Tolstoy berikut ini. Tentu saja, Leo Tolstoy bukanlah orang Jawa.
Tolstoy bercerita tentang seseorang yang sepanjang hidupnya terus-menerus membeli tanah. Orang itu seolah-olah tak pernah kenyang memperluas kekayaan. Pada sangkanya, dengan tanahnya yang luas, ia akan menemukan kebahagiaan dan kekuasaan. Hingga pada suatu hari, ia melakukan perjalanan untuk mengukur tanahnya yang sangat luas itu, yang telah menjadi wilayah kekuasaannya. Di tangannya tergenggam sebuah meteran. Ia lalu berjalan kaki menghitung petak demi petak. Perjalanannya jauh sekali, sebab tanah yang dimilikinya nyaris tanpa batas. Tepat di suatu titik, orang itu lelah. Ia lalu rubuh dan mati. Akhirnya, di petak terakhir yang berhasil diukurnya itulah ia dikuburkan.
Mungkin kisah Tolstoy adalah cerita tentang ksatria modern yang terbiasa mengukur ruang dengan angka, volume, dan rupiah. Tapi siapakah “ksaria modern” itu ?
Yang pasti, ksatria modern dalam kisah Tolstoy adalah ksatria yang menyalahi laku Bima. Bisa jadi, ksatria modern itu adalah diri kita sendiri, yang terbiasa mengukur hakikat dan posisi diri dengan membandingkannya dengan posisi orang lain, atau dengan posisi diri sendiri sebelumnya. Sungguh, perbandingan yang semacam itu (akan) berlangsung tanpa habis-habisnya.
Tapi, di situlah kekonyolan, yang menjauhkan ksatria modern dari meneladani Bima. Yang kelihatan adalah bagaimana ksatria modern memperbesar kesakten dan kekuasaannya, agar masih tersedia tempat yang cukup jika mereka hendak beranak-pinak seperti marmut.
Bisa saja tempat dan tanah yang dimiliki oleh seorang ksatria modern memang sebanding luasnya dengan semesta yang terhampar di hadapan Bima ketika ia menyelam di dalam batin Dewaruci. Tapi makna dari kedua macam “keluasan” itu sungguh sangat berbeda. Di dalam batin Dewaruci, Bima tidak hanya menemukan tempat bagi dirinya untuk mencapai manunggaling kawulo-Gusti, tetapi ia juga mendapatkan dunung-nya. Sementara ksatria modern hanya memperoleh tempat; tanpa dunung.
Kata dunung berasal dari bahasa Jawa juga. Dalam kamus Baoesastra Djawa yang disusun Empu Bahasa W.J.S. Purwadarminta yang tersohor itu, dunung tak cuma berarti tempat (enggon), wilayah (wewengkon), tetapi juga posisi yang pas (prenah). Dunung adalah pengertian yang lahir dari kesadaran akan kefanaan, yakni pengetahuan tentang asal dan tujuan segala ciptaan. Orang Jawa menyebutnya kawruh sangkan paraning dumadi. Seseorang akan kehilangan dunung-nya ketika ia lebih mengutamakan tempat.
Bagi seorang ksatria Jawa (dan orang Jawa pada umumnya), dunia yang terreduksi menjadi kavling-kavling yang terukur, betapa-pun luasnya, bukanlah jaminan untuk bisa sampai pada kawruh sangkan paraning dumadi, apalagi manunggaling kawulo-Gusti.
Meskipun perjalanan para ksatria modern sama-sama panjang dan sulitnya dengan perjalanan Bima dalam mendapatkan air hidup, tapi pengertian dan kesadaran yang berhasil dicapai oleh masing-masing sungguh berbeda.
Saya tak tahu apakah masih ada dunung itu, yang perlahan juga raib dari kosa-kata keseharian orang Jawa. Tapi saya masih mencoba berharap, meski para ksatria di Jogjakarta ini —dari hari ke hari— semakin mempertegas petak tanah mereka, sementara Dewaruci mereka sulap dan kurung di mall-mall, dan di tempat-tempat rekreasi dan hiburan yang super megah.
Sumber: Magnis (Etika Jawa) dan GM (Caping: Hujan)
Pada diriku ada Allah, namun aku bukanlah Allah.
Bagaimana mengetahui adanya Allah, hanya dengan rasa.
Komentar oleh Tri Basoeki Soelisvichyanto — Juli 12, 2007 @ 5:54 am